Featured

Bismillahirrohmanirrohiiim

Tampilkan postingan dengan label Muhasabah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muhasabah. Tampilkan semua postingan

0 Facebook Lain Muhrim

Curhat, curhat, share, share lalu tunggu komentar teman, begitulah aktivitas akhwat dan ummahat yang sadar IT. Yap, bagi yang banyak waktu luang, banyak masalah dan pastinya banyak uang amat rentan kecanduan share di jejaring sosial. Tapi, ada aturan main di dunia maya yang sebenarnya mirip aturan di dunia sebenarnya, kenapa saya bilang mirip?

Semua berawal dari fenomena (kegelisahan saya sebenarnya), bahwa ada yang membedakan gaya bersosialisasi di dunia maya dan dunia riil. Paling gampang adalah, ada akhwat atau ummahat yang di dunia riil sangat menjaga pergaulan dengan nonmahrom tapi sayangnya di dunia maya dia punya banyak teman laki-laki nonmahrom yang akan dengan mudahnya nimbrung komentar di tiap statusnya.

Well, kita berjuang ghadul bashor di lingkungan sekitar atau kampus tapi bebas ber “hai” ria di jejaring sosial, buat apa kita diam membisu saat bertemu tapi di jejaring social kita saling curhat, Masya Alloh. Bukankah aturan menjaga muru’ah (kehormatan diri) juga berlaku dimanapun kita berada, termasuk di dunia maya sekalipun. Jika kita bisa mengaplikasikan aturan main menjaga pergaulan dan menjaga izzah di dunia riil, mestinya kita juga bisa dan mau menerapkannya di dunia maya. Bahkan dalam mendakwahi lawan jenispun ada SOP-nya, tidak dengan dalih berdakwah lantas kita terima ikhwan-ikhwan jadi teman “maya” kita.

Saya merasa cemburu saat ada ummahat yang notabene mengerti ajaran menjaga izzah tapi teman nonmahrom di akunnya banyak banget. Tiap update status ikhwan-ikhwan juga ikutan komentar, waduh suaminya apa tidak cemburu ya?. Mengapa aturan menjaga pandangan dan menjaga izzah seolah memudar hanya karena kita tidak ketemu langsung face to face, padahal kalau dipikir, komentar di tiap status kan sama saja dengan kirim SMS, berarti sama saja kita sedang SMS-an dengan nonmahrom, curhat-curhatan dan cekakak cekikik bukan dengan suami kita?. Termasuk memajang foto tercantik kita yang dapat dilihat dengan mudahnya oleh ikhwan nonmahrom, sebaiknya dihindari, hatta dalam foto itu kita memakai cadar.

Semua itu untuk menjaga agar kita tidak menjadi fitnah (ujian dan cobaan) bagi orang lain, tidakkah terpikir oleh kita, bisa jadi foto kita tengah dikagumi oleh laki-laki bukan mahrom kita atau suami wanita lain. Ahsan, foto cantik kita digantikan simbol seperti bunga dan pemandangan untuk menjaga hati siapapun yang melihatnya. Bukankah syariat kita menjaga dan menutup celah bagi timbulnya kerusakan, sekecil apapun.

Poin penting dalam berjejaring sosial adalah kita harus merasa bahwa Alloh pasti sedang mengawasi tiap gerak-gerik kita, jadi mari kita terapkan sikap cerdas dalam memilah dan memilih teman. Jika ia bukan mahrommu, sebaiknya tidak berteman dengannya karena manusia adalah tempatnya khilaf dan kita tahu betul bahwa hati wanita mudah goyah (paling terasa saat haid, jadi gampang moody). Apalagi kembali merajut pertemananan dengan mantan atau seseorang yang pernah kita suka, ini big NO, NO deh! Hindari sekuat mungkin meng-add-nya. Insya Alloh, berteman dengan wanita saja atau mahrom kita, pasti jauh lebih menenangkan jiwa dan tentunya jika dibarengi niat untuk saling amar ma’ruf nahi munkar akan mendapat pahala, Insya Alloh.

Marilah akhwat dan ummahat yang baik nan salihah, tetap jaga kehormatan kita dimanapun dan kapanpun plus berhati-hati dalam bersikap maupun bertutur. Seperti yang pernah dilansir sebuah situs ternama bahwa penyebab tertinggi perceraian di Jawa Barat adalah akibat Facebook.

Jejaring sosial merk apapun tergantung pemakainya, jika pemakainya cerdas maka ia sukses memiliki jaringan (terutama bagi yang berjualan via OS), tapi jika memperturutkan hawa nafsu dan tak berilmu maka jejaring sosial hanya akan menjadi jurang gelap berbuah sesal dan dosa, Naudzubillahi min Dzalik. Wallahu a’lam.

(Penulis: Dian, ibu rumah tangga tinggal di Ambon)

Sumber : http://www.eramuslim.com/akhwat/muslimah/facebook-kamu-harimau-kamu.htm

Read more

2 BERHALA TEKNOLOGI


Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih Maha Penyayang




[2.21]. Hai manusia, sembahlah Tuhanmu; yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelummu, agar kamu bertaqwa



[2.22]. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan buatmu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kamu mengetahui


AL-BAQARAH 21-22

edua ayat ini menggambarkan bahwa sudah seyogianyalah manusia itu menyembah Allah karena Dialah yang menciptakan manusia dan semua mahkluk di alam semesta, baik bernyawa maupun tidak. Semua makhluk, baik manusia, binatang, tumbuhan, jin dan malaikat, bakteri, virus, amoeba, sel maupun DNA. Demikian pula dengan makhluk yang tak bernyawa misalnya bintang, planet, satelit (bulan), komet, meteor, asteroid, dan yang dalam ukuran yang sangat kecil (mikro) misalnya molekul, atom, proton, elektron, inti atom, positron, foton, muon dlsb. Semuanya yang berada di kolong langit ( di antara langit dan bumi) kecuali Allah adalah buatan Allah. Jadi di alam semesta ini yang ada hanya Khalik dan Makhluk, Pencipta dan Yang Diciptakan.

Tak ada yang lain dari pada itu, misalnya Anak Allah, Pendamping Allah, Istri Allah dlsb. Sebab jika demikian maka akan ada makhluk istimewa, atau bahkan adanya Tuhan yang lain. Padahal Tuhan yang Esalah yang diajarkan oleh Islam, tak ada Tuhan selain Allah. Pernyataan ini dimulai dengan kata “ tak ada “ (tiada) yang sifatnya menafikan atau mengingkari. Jadi belum apa apa sudah menyatakan bahwa di alam semesta ini semua bukan Tuhan, semua bukan Khalik (Pencipta), semuanya hanyalah Makhluk yang diciptakan oleh Khalik. Barulah setelah itu disusul oleh kata “ illa lLah “ ( kecuali Allah). Pernyataan ini menafikan dahulu semua yang pantas jadi saingan Allah untuk disembah, bisa saja itu berhala anak sapi, berhala dewa-dewi, ataukah itu matahari dan bulan, atau guntur yang menakutkan, atau apakah, dalam versi modern, itu bisa saja ilmu pengetahuan dan teknologi yang selalu didewa-dewakan, atau idola (- berhala karena idol makna terjemahannya adalah berhala) ABG atau penyanyi pujaan, atau dokter yang mampu menyelamatkan jiwa manusia (melepas manusia dari kematian), mereka semua bukanlah Tuhan, semua makhluk bukan Tuhan karena mereka semua diciptakan dan hanya Yang Menciptakan yang boleh mengaku sebagai Tuhan, yaitu hanya Allah yang Maha Esa. Jadi alasan mengapa manusia harus menyembah Allah adalah karena, Pertama Allah itu pencipta Alam semesta (Allah al-Khalik). Jadi sebelum makhluk dan alam semesta itu terbentuk, Allah sudah ada (Al-Qadim), dan karena itu Allah berbeda (Mukhalafah) dengan semua yang diciptakan-Nya kemudian (Al-Hawadits) Oleh karena itu Dia berbeda dari semua makhluk ciptaan-Nya (Mukhalafatu lilHawaditsi). Manusia sudah selayaknya berterima kasih karena hanya dengan Allahlah maka keberadaan ummat manusia itu terwujud.

Allah menciptakan manusia dan semua makhluk yang lainnya itu cukup dengan perkataan “ Kun “ (Jadi !), maka apa yang Dia inginkanpun akan terjadilah (yakun) tepat seperti yang diinginkan-Nya. Akan tetapi karena sifatnya Yang Maha Adil (‘Adil), Yang Maha Pencipta (Faathir), Yang Maha Bijaksana (Hakim), maka walaupun Allah mampu dan kuasa (Allahu ‘ala kulli syai-in qadir), Allah tidak akan melakukannnya kecuali dengan mengikuti Sunnatullah (Hukum Alam) baik yang sudah difahami para ilmuwan, yang belum difahami sampai sekarang (mungkin kelak akan terfahami) bahkan hukum-hukum alam yang sampai hari kiamatpun tak akan dapat difahami para ilmuwan. Tapi semuanya ada. Semua sunatulah itu sejalan dengan metodologi ilmiah yaitu logis dan empiris. Logis artinya masuk akal (rasional) dan dapat sejalan dengan pengamatan dan pencerapan (persepsi) panca indera manusia. Tentu saja kesejalanannya itu bergantung pada akal dan logika manusia untuk memahami sunnatullah itu, dan pada kemampuan panca indera serta perpanjangannya berupa instrumen pengukuran, deteksi, pengamatan, telemetri dlsb.


Dalam kesejalanan dengan akal manusia, sunatullah tidak pernah bertentangan dengan akal manusia (irrasional, tidak logis). Yang mungkin terjadi adalah sunnatullah itu belum dapat dijangkau, disentuh dan difahami oleh akal manusia. Masih diseberang akal, jadi belum menjangkaunya. Suatu ketika atau pada masa mendatang kelak, akal dan perkembangan ilmu pengetahuan mungkin bisa memahaminya sehingga yang diseberang akal tadi (ultra rasional) sudah dapat dijembatani hingga pada saat itu menjadi rasional (masuk akal). Sebagai contoh ketika perawan Maryam hamil dan melahirkan seorang nabi, Isa Al-Masih, maka akal dan ilmu pengetahuan pada zaman yang lalu belum bisa memahami bagaimana seorang perawan suci yang tak pernah disentuh laki-laki, karena itu tak ada proses pembuahan pada dirinya bisa menghasilkan sel telur yang berkembang jadi bayi manusia seutuhnya. Ini adalah hal yang ajaib, dan tak dapat difahami bahkan oleh ilmuwan sekalipun. Tapi sekarang dengan kemajuan Bio-teknologi, dikenal teknik Cloning dimana makhluk hidup bisa dihasilkan tidak melalui pembuahan tetapi dengan pembelahan sel dari sel-ibunya. Jadi sama sekali tak ada campur tangan sperma dari laki-laki manapun.

Alasan yang Kedua mengapa manusia harus menyembah dan beribadah kepada Allah, ialah karena Allah-lah yang memelihara manusia, hingga mampu hidup, menikmati hidupnya di bumi, beranak-pinak sampai meninggal. Untuk itu maka Allah telah menciptakan bumi dan lingkungan hidupnya sehingga manusia dengan segala keterbatasan fisiknya mampu beradaptasi hidup didalam lingkungan yang notabene “lunak” (mild). Harus diakui bahwa dari sekian puluh milyar tata surya yang tersedia para ahli belum mendapatkan planet yang menyamai kondisi di bumi, sehingga mampu memberi kenyamanan manusia untuk hidup.

Bumi dikelilingi oleh lapisan udara yang disebut atmosfir. Selain sebagai sumber kehidupan manusia, hewan dan tumbuhan, atmosfir ini juga berfungsi sebagai perisai pelindung dari hujan pecahan benda-benda luar angkasa yang setiap detik menghujani bumi. Lapisan udara ini berlaku sebagai penghambat, penghancur, pengerem benturan dari luar angkasa. Inilah bentuk kasih sayang Allah yang Maha Rahman dan Maha Rahiem untuk melindungi manusia dari kejamnya hujan meteorit, asteroid dan hujan medan geomagnetik lainnya. Ini tang dimaksud “----bumi sebagai hamparan buatmu dan langit sebagai atap, atap pelindung hujan benda langit.

Wallahu a’lam bishshawab. (sfr)





Allah menganugrahkan Al-Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur'an dan As Sunah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugrahi Al Hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (QS Al-Baqarah 2:269)
Read more

Delete this element to display blogger navbar

 
Modified by InU Hosting By DeKA